Terhindar dari malapraktik #1

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Tulisan ini adalah karya dari dr. Bahar Azwar, Sp B Onk yang pernah diterbitkan oleh PT. Kawan Pustaka dengan cetakan pertama pada bulan Juli 2005. Saat ini bukunya sudah tidak diperjualbelikan bebas, jika para pembaca ingin memiliki hard copy atau soft copy nya dapat menghubungi hotline kami.

Pada website ini kami akan memaparkan secara bertahap buku-buku karya dokter Bahar Azwar secara cuma-cuma dengan harapan bermanfaat bagi orang banyak.

Kasus malapraktik ketika berobat pasti tidak diharapkan siapa pun, baik oleh pasien maupun  dokter. namun, karena kelalaian atau ketidaktahuan, mungkin saja kasus itu terjadi. Dalam kondisi demikian, yang sangat dirugikan tentu saja pasien. Bahkan kerugian bisa ganda: sudah membayar, masih juga mendapat masalah baru. Agar terhindar dari kasus malapraktik, tak ada jalan lagi, pasien harus tahu hak dan kewajiban dalam berobat. Bagaimana caranya?

Mari kita awali dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar, yaitu :

Malapraktik Kedokteran Secara Umum

Apakah yang disebut dengan malapraktik?

Malapraktik adalah pekerjaan yang buruk atau salah (wrong doing). Ia berasal dari dua kata bahasa latin (Yunani), yaitu malus, yang berarti buruk, dan praktikos, pekerjaan.

Kalau begitu, apakah semua orang dapat melakukan malapraktik?

Betul, semua orang dapat melakukannya. Dari Ibu yang lalai menjaga anak, suami yang tidak memberikan nafkah, anak yang bolos sekolah, pengacara yang mempermainkakan perkara, sampai petinggi yang kelalaiannya merugikan negara.

Namun, mengapa selalu dikaitkan dengan dokter?

Jika dilakukan oleh dokter, barulah ia disebut malapraktik kedokteran. Terkenalnya itu mungkin karena hukumannya sudah dikenal sejak ribuan tahun sebelum Nabi Isa as lahir (1). Selain itu mungkin karena masyarakat masih percaya pada dokter.

Bukankah kalau dokter lalai akan terjadi masalah?

Belum tentu. Musibah dapat terjadi tanpa malapraktik dan sebaliknya.

Apakah contoh musibah tanpa malapraktik?

Misalnya, pasien meninggal dalam suatu operasi, walalupun dokter sudah melakukan segala cara yang harus dilakukan sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya dan pengalaman yang diperolehnya.

Apakah contoh malapraktik tanpa musibah?

Misalnya, pasien diperiksa dengan berbagai alat canggih berbiaya mahal, walaupun tidak diperlukan.

Bagaimana mengetahui adanya malapraktik?

Ada beberapa unsur. Pertama adalah adanya hubungan dokter – pasien (2)

Bukankah itu yang disebut berobat?

Betul, tetapi diantaranya ada yang cacat hukum.

Mengapa?

Anda harus melihat hubungan itu sebagai perjanjian. (3) Bukankah Anda datang untuk minta pertolongan karena percaya bahwa dokter itu dapat menolong? Bukankah dokter yang Anda percayai itu bersedia atau berjanji untuk menolong? Dan bukankah atas pertolongan itu Anda bersedia membayar sejumlah uang? Jadi, hubungan itu adalah perjanjian dalam berobat (4).

Apakah gratis itu cacat hukum?

Tidak. Itu termasuk perjanjian karena dokter menyepakatinya. Gratis tidak membebaskan dokter dari kewajibannya untuk mengobati dengan baik.

Ataukah belum membayar?

KUHPer pasal 1458 menyebutkan :’Jual-beli dianggap telah terjadi ketika tercapai kata sepakat tentang benda dan harganya, meskipun barang itu belum dibayar” Dengan demikian, kesapakatan sudah terjadi. Walaupun Anda belum membayar ataupun dokter belum memeriksa.

Kalau sudah saya menjalani operasi, bukankah artinya sudah sepakat?

Memang, tetapi tunggu dulu. Bagaimana bila itu anak Anda? Bukankah Anda yang memutuskan persetujuan operasi untuk dia? Bukankah itu lantaran kecakapannya tidak cukup untuk memutuskan nasibnya sendiri? Sebaliknya, setujukah Anda menjalani operasi yang dilakukan oleh seorang mantri? Jadi, selain kesepakatan, perjanjian itu harus dibuat oleh dua orang yang cakap. Ini disebut unsur kecakapan.

Sudah cukupkah unsur perjanjiannya dengan kesepakatan dan kecakapan?

Belum cukup. Jika Anda ke tukang cukur dan minta dipangkas crew cut ala tentara tetapi tahu-tahu rambut Anda gundul; atau kalau Anda direncanakan operasi usus buntu tahu-tahu dikhitan, kan marahkah Anda? Tentu saja. Nah perjanjian itu sah jika memuat hal yang tertentu, seperti crew cut atgau usus buntu dan bukan gunting rambut atau operasi.

Dimanakah ditulis perjanjian itu?

Tunggu dulu! Selain kesepakatan dan kecakapan, hal tertentu yang diperjanjikan itu tidak boleh melanggar hukum abortus.

Masuk akal. Tetapi dimanakah ditulis perjanjian itu?

Ia ditulis dalam surat persetujuan Tindakan Medik (5).

Apa sajakah isinya?

Dalam hal tindakan medis isinya adalah

  1. Adanya tindakan.
  2. Adanya resiko.
  3. Adanya tujuan yang ingin dicapai.

Bukankah ada formulirnya di setiap rumah sakit?

Itu masalahnya. Formulir itu hanya memuat kedua pihak yang berjanji, yaitu dokter dan  pasien, serta tindakan yang akan dilakukan.

Form TindakanMedis

Mengapa demikian?

Karena tidak mungkin menuliskan semuanya dalam satu halaman.

Apakah alasannya?

Jenis operasi yang dilakukan dirumah sakit itu berjumlah puluhan dan masing-masing berbeda.

Samakah resikonya dengan komplikasi?

Serupa tapi tak sama. Resiko itu mencakup bila dikerjakan atau tidak, sedangkan komplikasi terjadi sesudah dikerjakan.

Maksudnya?

Katakanlah operasi usus buntu. Jika dikerjakan, sembuh dengan resiko atau komplikasi yang sangat kecil. Namun, jika tidak, resiko bocor dan mengancam nyawa.

Bahwa resiko itu berbeda, masuk akal. Namun, bukankah tujuannya sama?

Tujuan operasi itu aneka ragam, seperti biopsi payudara untuk mengambil sampel tumor dan bukan menyembuhkan, sedangkan masektomi (pengangkatan payudara) bertujuan menyembuhkan.

Bagaimana solusinya?

Di surat itu disebutkan bahwa semua hal yang berhubungan dengan resiko sudah diterangkan oleh dokter. Tanda tangan yang dibubuhkan menyatakan bahwa Anda mengerti dan menyetujuinya.

Kalau begitu dimanakah keterangannya?

Rinciannya itu dapat ditulis dalam status atau Catatan Medis.

Perlukah itu?

Kalau Anda menandatangani surat persetujuan itu, berarti Anda sudah mengerti dan setuju. Selain itu, kelengkapan penyampaian informasi disebutkan dibagian bawah berikut nama/tanda tangan dokter dan perawat yang menerangkannya.

Apa untungnya tertulis dalam status?

Artinya, itulah hal yang tertentu dalam persetujuan operasi atau itulah yang sebenar-benarnya diinformasikan.

Dapatkah berupa lisan?

Tentu dapat. Namun, kalau terjadi sengketa, hal itu harus dibuktikan dengan saksi.

Siapakah yang harus membuktikannya?

Dalam hal ini dokter karena ia yang berkepentingan.

Maksudnya?

Katakanlah bila korban menderita kelumpuhan wajah dan hal itu sudah diberitahukan secara lisan. Kalau korban mengatakan belum diberitahu, dokter dapat dipersalahkan. Maka, dokter akan membuktikannya dengan membawa saksi seperti perawat.

Bukankah perawat akan bekerjasama dengan dokter?

Tidak perlu demikian jika Anda sudah menandatangani surat persetujuan.

Jadi, kalau begitu, setiap musibah yang timbul akibat operasi tidak dapat dituntut karena sudah diperjanjikan?

Bukan demikian. Jika dapat dibuktikan bahwa dokter melakukan kesalahan atau malapraktik, tentu dapat diperkarakan. Dan untuk itu, catatan tertulis sangat berharga baik bagi pasien maupun bagi dokter.

Oke. Selain perjanjian, apa lagikah unsur malapraktik?

Unsur berikutnya adalah mengingkari perjanjian itu atau kewajibannya terhadap pasien.

Bagaimanakah ragam pengingkaran itu?

Ia mengingkarinya dengan lalai, tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan, atau gagal melakukan seseuattu yang seharusnya mampu dilakukannya.

Apakah yang dimaksudkan dengan yang seharusnya mampu dilakukannya?

Yang seharusnya mampu dilakukannya adalah pengetahuan dan kecakapan yang diharapkan dapat dilakukan sesuai dengan gelarnya. Misalnya dokter umum diharapkan dapat mengobati batuk pilek tetapi tidak diharapkan dapat melakukan operasi usus; spesialis kandungan diharapkan mampu melakukan operasi sesar tapi tidak mengobati patah tulang.

Apa bedanya antara lalai dan gagal?

Lalai melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan biasanya mencakup hal-hal selain teknik melakukan tindakan medis yang diperjanjikan. Misalnya, ia tidak merujuk pasien ke dokter yang lebih cakap untuk keadaan tertentu, seperti ahli jantung. Sebaliknya, gagal bersifat teknik, misalnya terlalu kasar menggunakan alat kauter (pembakar untuk menghentikan pendarahan) hingga usus bocor.

Namun, bukankah itu relatif? Bukankah tidak setiap pasien harus dirujuk? dan bukankah kasar atau halus itu susah diukur?

Betul. Ada hal yang jelas bagi orang awam, seperti ketinggalan gunting di perut atau salah potong seperti memotong pinggang kiri padahal batu ginjanya terletak dikanan. Untuk ini, pengadilan dapat menggunakan akal sehat (common sense). Namun untuk hal-hal yang menyangkut kedokteran harus dibandingkan dengan pendapat dokter lainnya.

Apakah tidak cukup dengan standar prosedur?

Merek saling melengkapi. Tentu, segala sesuatu yang seharusnya dilakukan, atau yang seharusnya dapat dilakukan, tertulis dalam prosedur dan harus diikuti. Namun, harus diingat bahwa standar prosedur itu bersifat umum dan pelaksanaannya tergantung kekhususan pasien, waktu, dan tempat.

Apakah contohnya?

Nantikan lanjutan dari pembahasan ini pada tulisan-tulisan berikutnya.

Galeri Buku Karya dr. Bahar Azwar Sp B Onk

Contact us!

Recent Posts

Leave a Comment