Terhindar dari malapraktik #2

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Pada tulisan sebelumnya Terhindar dari Malapraktik #1   telah dijabarkan beberapa penjelasan mengenai malapraktik kedokteran secara umum. Mari kita lanjutkan kembali tulisan-tulisan berikutnya. Semoga bermanfaat bagi semua pembaca.

أمين أمين يا الأمين رابال 

Note : Jika pembaca ingin mendapatkan hardcopy atau softcopy dari buku ini secara keseluruhan silahkan hubungi hotline kami.

Apakah contohnya?

Misalnya, kebocoran usus sewaktu mengeluarkannya dari rongga perut. Sesuai dengan prosedur, usus harus mendapat perlakuan yang halus (gentle). Bagaimanakah mengukurnya? Apakah keadaan usus korban itu demikian rapuhnya hingga sehalus apa pun tetap bocor? Saat standar prosedur tidak dapat digunakan, pendapat dokter pembanding mutlak.

Apakah semua dokter dapat menjadi dokter pembanding?

Tidak. Dokter pembanding itu harus setara dalam pengetahuan dan pengalaman. Selain itu, penalarannya harus berpijak pada waktu kejadian dan fasilitas yang tersedia di tempat kejadian.

Mengapa demikian?

Bukankah tidak adil meminta seorang dokter ahli bedah plastik untuk menilai pekerjaan dokter ahli bedah umum dalam operasi bibir sumbing? Bukankah tidak adil bila seorang ahli kebidanan senior menilai ahli kebidanan yang baru tamat? Bukankah tidak adil pula jika ahli mata di Jakarta menilai operasi mata di Papua? Bukankah tidak adil jika ahli penyakit dalam di tahun 2000 menilai pekerjaan kawan mereka di tahun 1997?

Apa bedanya waktu dalam memperbandingkan?

Hal ini mungkin terjadi pada perkara malapraktik yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Perlu diingat bahwa kemajuan ilmu kedokteran itu sangat pesat. Hal-hal yang tidak terbayangkan dapat terjadi dalam beberapa tahun kedepan, seperti diketahuinya berbagai penyakit dan obat baru.

Apakah patokan yang digunakan dalam membanding itu?

Patokannya adalah kelaziman yang biasa dilakukan dalam keadaan dan tempat tertentu itu.

Apakah yang dimaksud dengan lazim?

Artinya, dokter pembanding juga akan melakukan tindakan yang sama.

Kalau heran?

Kalau lazim dan heran, malapraktik tidak terbukti.

Gambar 1. Alur pikir dokter pembanding

Mengapa begitu?

Heran adalah kesannya, sesudahnya membayangkan tindakan dokter pelaku. Jika lazim dan terjadi musibah, wajar ia heran.

Bagaimana jika lazim dan tidak heran?

Artinya, walaupun ia yang melakukan, musibah itu sering terjadi.

Kalau tidak lazim?

Tidak lazim berarti dokter pembanding tidak akan melakukannya seperti halnya dengan dokter lainnya. Dan ia tidak heran dengan musibah yang diakibatkannya.

Bagaimana jika tidak lazim tapi heran?

Biasanya itu malapraktik tanpa musibah.

Kalau begitu, bukanlah sulit mencari dokter pembanding itu?

Memang sulit, tapi bisa.

Jadi, bagaimanakah mencari keadilan?

Mudah-mudahan pencarian keadilan sekarang lebih baik karena pemerintah sudah membentuk Konsil Kedokteran Indonesia dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Namun, cara yang terbaik mendapatkan keadilan adalah mencegah malapraktik.

Bagaimana mencegahnya?

Sebelum berobat, yang harus digunakan adalah hak memilih, hak atas informasi, dan hak untuk didengar; dalam pengobatan, hak atas kenyamanan, hak atas keamanan, dan hak atas keselamatan; sedangkan bila terjadi dugaan malapraktik, hak mendapatkan advokasi dan upaya perlindungan, hak untuk mendapatkan ganti rugi, dan hak yang diatur dalam perarutan perundang – undangan lain (6)

Hak pasien sebelum, dan sesudah berobat.

 

Banyak sekali hak yang didapatkan tetapi apakah kewajibannya?

ia tertulis dalam UU perlindungan komsumen pasal 5, seperti bersyukur dan berterimakasih, patuh mengikuti petunjuk dokter, dan beritikad baik.

Tetapi apakah pasien-pasien mengetahuinya?

Sekarang Anda tahu.

Apakah jika pasien mengingkari kewajibannya, ia melakukan malapraktik?

Betul.

Apa pulakah resiko hukumannya?

Dokter akan mempersalahkan pasien atas musibah yang dideritanya.

Namun, andaikata tidak ada musibah, tentu kita tidak mengetahui adanya malapraktik?

Betul.

Kalau begitu, kapankah kita dapat menuntut suatu malapraktik?

Jika ada musibah yang merupakan akibat langsung dari pengingkaran kewajiban.

Musibah yang bagaimanakah?

  1. Cedera emosi tanpa kerusakan jasmani.
  2. Cedera sementara yang tidak berarti (seperti lika robek, memar, parut ringan).
  3. Cedera sementara yang ringan (seperti infeksi, jatuh dirumah sakit, dan penyembuhan terlambat).
  4. Cedera sementara yang berat (seperti luka bakar, alat bedah tertinggal, reaksi obat).
  5. Cacat yang ringan (seperti kehilangan jari atau organ tubuh).
  6. Cacat yang bermakna (seperti tuli dan kehilangan organ tubuh, seperti lengan, tungkai mata, satu ginjal, dan satu paru).
  7. Cacat berat (seperti lumpuh, buta, kehilangan kedua lengan atau tungkai, dan kerusakan otak).
  8. Cacat serius (seperti lumpuh keempat anggota tubuh, cedera otak berat, perawatan yang lama).
  9. Mati

Data di atas merupakan peringkat musibah menurut National Association of Insurance Commissioners / NAIC (7). Musibah itu dapat dibagi dalam skala  1-9 atas cedera, kelainan yang dapat diobati atau cacat. Tentu saja musibah yang layak untuk dituntut adalah cedera sementara yang berat, cacat dan kematian.

Kalau begitu, apa gunanya pembagian ini?

Pembagian ini diperlukan untuk menentukan ganti rugi. Bertambah tinggi derajatnya bertambah pula ganti ruginya.

Demikianlah Bab pertama dari tulisan ini dijabarkan. Pada tulisan selanjutnya atau Bab berikutnya akan dipaparkan kasus-kasus malapraktik yang ada. Bab ini berjudul :

Bedah 25 Kasus 

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Galeri Buku Karya dr. Bahar Azwar, Sp B Onk

Contact us!

Recommended Posts

Leave a Comment