Terhindar dari malapraktik #3

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Setelah melalui tulisan demi tulisan dari Bab pertama pada buku Terhindar dari malapraktik karya dr. Bahar Azwar, Sp B Onk :

Maka pada tulisan kali ini, kita akan membahas lebih lanjut Bab kedua yang berjudul :

Bedah 25 Kasus

Bedah kasus ini dilakukan semata untuk mengenal malapraktik dan bukan untuk menghakimi. Penalaran kasus semata berdasarkan keterangan yang didapat dan merupakan pendapat pribadi.

Kasus 1

Beli karcis tetapi tidak dilayani

Ibu Arlina menderita pembengkakan pada mata kanan dan sudah sebulan tidak kontrol. Ia berobat ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sang ibu mendaftar dan membayar Rp. 15.000. Kemudian ia masuk ke kamar periksa nomor 6. Namun ia tak dipangil-pangil, padahal orang yang belakangan sudah diperiksa. Sang ibu menanyakan langsung kepada dokter, dan mendapat jawaban bahwa statusnya tidak ada serta dianjurkan untuk kembali ke bagian pendaftaran. Di situ dikatakan bahwa statusnya juga tidak ada,  dan masih ada di kamar periksa nomor 6. Sang ibu kembali ke kamar periksa nomor 6 dan melaporkannya kepada dokter yang tanpa mencarinya mengatakan bahwa statusnya tak ada. Ia kembali ke tempat pendaftaran hanya untuk mendapatkan bentakan dan pulang sambil menahan sakit. (Kompas, 8 April 2001)

 

 

Apakah sang ibu mengalami malapraktik?

Ya, tetapi bukan malapraktik kedokteran karena tidak ada hubungan dokter – pasien, baik pemeriksaan maupun pengobatan.

Bukankah ia sudah membeli karcis untuk berobat?

Betul dan itu berarti ada ikatan antara dia dan rumah sakit, tetapi tidak dengan dokter.

Bukankah ia sudah melaporkan halnya kepada dokter?

Betul, tetapi dokter bukanlah rumah sakit. Ia hanyalah satu komponen kecil dalam sistem rumah sakit. Ia tidak dapat mengobati tanpa kelengkapan administrasi.

Bukankah sudah ada karcis berobat?

Betul, tetapi untuk melindungi dirinya dari tuntutan malapraktik, dokter membutuhkan status atau catatan medik. Di situ dokter melihat riwayat penyakit dan obat-obatan yang terdahulu serta menuliskan hasil pemeriksaan dan pengobatannya. Kecuali dalam keadaan darurat, tanpa status, dokter tidak akan melakukan pengobatan.

Jadi apa gunanya membeli karcis?

Karcis yang di beli itu adalah isyarat untuk membuat atau mencari status dan memberikannya kepada dokter.

BIsakah kita menuntut rumah sakit?

Sudah punya karcis tapi tidak diobati adalah penipuan dan tentu bisa dituntut. Namun, itu tidak layak karena musibah yang dialami sang ibu tidak serius.

Lho, bukankah sakit hati itu suatu musibah?

Ya, tetapi ringan atau derajat 1 dalam skala 1-9. Selain itu, bila kita mengacu pada jurisprudensi Amerika Serikat, rumah sakit negara atau yang bersifat sosial tidak bertanggung jawab atas kesalahan pegawainya kecuali jika bisa dibuktikan bahwa rumah sakit itu lalai memilih dan mendidiknya.

Bagaimana mencegahnya di kemudian hari?

Sang ibu salah memilih rumah sakit. Untuk mata bengkak, sebaiknya ia memilih puskesmas atau rumah sakit yang lebih kecil. RSCM adalah pusat rujukan nasional dan rumah sakit pendidikan hingga merupakan rumah sakit tersibuk di Indonesia.

Demikian kasus 1 dari 25 kasus yang akan dijabarkan pada tulisan selanjutnya. Perlu untuk kami jelaskan kembali bahwa buku ini pertama kali di terbitkan oleh PT Kawan Pustaka paada bulan Juli tahun 2005. Kasus 1 diatas belum ada BPJS di Indonesia, akan tetapi intinya tetaplah sama dan bisa dijadikan pembanding.

Semoga berguna dan bermanfaat bagi para pembaca serta bermanfaat juga bagi Almarhum dr. Bahar Azwar, Sp B Onk sesuai dengan hadits shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

Pada kasus selanjutnya kami akan memaparkan kasus kedua dengan judul Olahraga Kuitansi. Bagi para pembaca yang ingin mendapatkan soft copy atau hard copy dari buku ini dan buku karya dokter Bahar Azwar yang lainnya dapat menghubungi hotline kami baik telepon, whatsapp, line ataupun e-mail.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Galeri Buku Karya dr. Bahar Azwar, Sp B Onk

Contact us!

Recommended Posts

Leave a Comment