Islam dan Ilmu Pengetahuan #1

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (Al Qur’an). (Al An’aam : 38)

Kutinggalkan untuk kamu dua perkara, tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasul-NYA. (Al-Hadist)

Ilmu pengetahuan di dalam Islam memiliki tempat yang istimewa dan  termasuk hal yang utama. Islam menyamakan pencarian ilmu pengetahuan dengan ibadah, bahkan Islam sangat memuji orang yang tekun mencari pengetahuan dan menjadikan mereka wali dan sahabat ALLAH, serta menempatkan nilai tintanya di atas nilai darah syuhada.

Ilmu pengetahuan Islam sangat jauh dari spekulasi, yang dikutuk sebagai kesia-siaan oleh Islam. Kebencian Islam terhadap pengetahuan spekulatif bukanlah antiintelektualisme, tetapi ini merupakan puncak kritik. Pencarian manusia tak akan pernah berhasil atau bernilai tanpa startegi dan ekonomi. Mencari ilmu yang mustahil jelas sia-sia. Menggunakan metodologi yang salah berarti menghancurkan keberanian sebelum mulai. Gaib, alam transenden – pertanyaan utama mengenai metafisika, wilayah kekuasaan Tuhan, langit-NYA, malaikat-NYA, aktivitas-NYA, masalah diluar waktu dan ruang – selamanya di luar pengetahuan kita. Pada dasarnya, kita tidak memiliki pengetahuan tentang semua itu selain disingkapkan Tuhan yang Maha Pencipta. Mencuri ilmu dari langit seperti Promotheus (mitologi Yunani)  adalah menggelikan dan naif. Menginginkan ilmu seperti Adam dan Hawa tanpa memperhitungkan konsekuensinya adalah sia-sia. Orang yang matang, bertanggung jawab, dan bijaksana diantara manusia adalah mereka yang puas dengan kondisi kemanusiaannya. Orang seperti ini menerima dengan rasa syukur, menyadari kekurangannya. Mereka berusaha untuk menunaikan tugas besar menegakkan kebenaran sejauh yang dapat dilakukan manusia, yaitu ilmu pengetahuan tentang diri mereka dan lingkungannya. Mereka menjalankan fungsi harafiah sebagai Khalifah (pengganti / mewakili / yang mengerjakan urusan) Tuhan di bumi. Sejarah telah membuktikan dan akan tetap terbukti waktu demi waktu bahwa manusia tidak akan bisa menciptakan sebuah ruh / nyawa seperti dirinya sendiri. Semua ciptaan dan terobosan manusia adalah hasil dari pengolahan sumber daya yang telah diciptakan Tuhan. Jika manusia bisa menciptakan nyawa / ruh, maka hal itupun adalah izin Tuhan sebagai penciptanya dengan bahan-bahan yang telah diciptakannya bukan? . Catatan sejarah telah jelas benderang bagaimana manusia yang menjadikan dirinya Tuhan akan binasa, tidak ada yang abadi.

Ilmu tidak terbatas karena kebenaran tidak terbatas. Tak ada jalan pintas menuju ilmu. Jalan menuju ilmu sukar dan bisa jadi berbahaya, memerlukan pendisiplinan aplikasi diri dan dedikasi. Terutama lagi, jalannya panjang, menghabiskan banyak waktu. Untungnya, manusia di anugerahi oleh Tuhan sejumlah karunia yang mempermudah pencariannya dan mencapai tujuannya. Manusia dianugerahi panca indera serta daya ingat dan imajinasi, persepsi teoretis dan aksiologis. Diatas semua ini ada kemampuan kritis akal untuk memandu, menyelaraskan, mengkoreksi dan memperkuat, hingga mensistemasikan ilmu yang didapat dan mengaitkannya dengan tindakan. Ini semua adalah karunia yang jarang pernah terlalu disyukuri manusia. Manusia cenderung sombong dan merasa selalu bisa.

Kenabian dalam Islam adalah bantuan untuk pencarian bagi manusia. Wahyu, menurut islam. bukanlah penyingkapan tentang diri Tuhan, melainkan pengetahuan tentang kehendak dan perintah NYA. Wahyu diturunkan sebagai peringatan terhadap kekeliruan dan kesalahan berfikir dan sebagainya, sebagai bimbingan menuju kebenaran. Kebenaran yang juga menjadi tujuan pencarian manusia dan yang di cari ilmu pengetahuan. Wahyu terekam dalam sebuah kitab NYA  Al-Qur’an sebagai ringkasan prinsip-prinsip umum dan pokok semua ilmu pengetahuan. Al-Qur’an merupakan rujukan siap pakai bagi mereka yang mencari sumber kebenaran yang terbuka. Al-Qur’an menetapka nsatu syarrat bagi para pencari ilmu, yaitu menguasai bahasa arab. Bahasa yang dapat dikuasai dengan kemauan, kecerdasan dan tekad. Al-Qur’an adalah kitab di samping “kitab” lain, yaitu hakikat dan realitas, yang juga terbuka, umum, dan dapat di jangkau para pencari ilmu. Hukum-hukum  alam merupakan pola Pencipta yang melekat dalam penciptaan NYA. Karena itu hukum alam merupakan kehendak NYA, baik itu berlaku pada alam, bumi, pada benda-benda dan organisme atau pada sejarah, ekonomi, sosial dan pada niat dan perbuatan manusia serta aspek-aspek lainnya. Sementara Al-Qur an memerlukan kecerdasan linguistik untuk memahami isinya, maka alam harus “dibaca” dan dipahami. Untuk membaca dan memahami alam diperlukan semua kemampuan kognitif. Al-Qur’an merupakan jendela untuk melihat alam makna yang tidak terbatas dengan benar.

Kaum Muslim menyebut al-‘ulum al-syar-‘iyyah ilmu-ilmu yang mencoba memahami makna wahyu. Termasuk dalam kategori ini adalah ilmu bahasa, ilmu Al-Qur’an, ilmu bahasa, ilmu hadist dan ilmu syariat. Ilmu bahasa penting karena ilmu bahasa merupakan kunci menuju data wahyu, teks maupun makna. Bahasa Arab (اللغة العربية al-lughah al-‘Arabīyyah, atau secara ringkas عربي ‘Arabī) adalah salah satu bahasa Semit Tengah, yang termasuk dalam rumpun bahasa Semit dan berkerabat dengan bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Neo Arami. Bahasa Arab memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semit. Ia dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama, yang mana sebagian besar tinggal di Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahasa ini adalah bahasa resmi dari 25 negara, dan merupakan bahasa peribadatan dalam agama Islam karena merupakan bahasa yang dipakai oleh Al-Qur’an. Berdasarkan penyebaran geografisnya, bahasa Arab percakapan memiliki banyak variasi (dialek), beberapa dialeknya bahkan tidak dapat saling mengerti satu sama lain. Bahasa Arab modern telah diklasifikasikan sebagai satu makrobahasa dengan 27 sub-bahasa dalam ISO 639-3. Bahasa Arab Baku (kadang-kadang disebut Bahasa Arab Sastra) diajarkan secara luas di sekolah dan universitas, serta digunakan di tempat kerja, pemerintahan, dan media massa.

Ilmu Al’Qur’an berkisar pada teks firman ALLAH, tata bahasa, sintaks dan leksikologinya. Ilmu ini juga berkisar pada teks sejarah kontemporer sebagai konteks situasional wahyu, dan makna tersurat ataupun tersirat teks. Ilmu hadis berkenaan dengan sunnah Nabi Muhammad sebagai penjelas, teladan, dan perwujudan makna Al-Qur’an. Ilmu hadis juga membahas persoalan menentukan keakuratan hadis dan teksnya. Akhirnya ilmu syariat berupaya menentukan perintah-perintah Islam, menerjemahkannya ke dalam perundang-undangan. Ilmu syariat memnentukan institusi maupun metodologi untuk pelaksanaan syariat.

Islam adalah Agama yang Sempurna untuk seluruh umat manusia. Banyak Fitnah yang bertubi-tubi menghantam kebesaran Islam sepanjang sejarah dunia. Tetapi semuanya telah terbantahkan dengan keakuratan sejarah itu sendiri.

والله أعلمُ بالـصـواب

 “dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya (and Allah knows the right)”

Sumber Pustaka :

  1. Al-Qur’an
  2. Atlas Budaya Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang ISLAM karya Isma’il R. Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi terbitan Macmillan PublishingCompany, New York, Amerika Serikat, 1986. Penerjemah ; Ilyas Hasan Penyunting Sari Meutia.
  3.  https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arab
  4. Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an karya Choiruddin Hadhiri SP penyunting Iffa Karimah Penerbit Gema Insani Press.

 

Buku karya Dokter Bahar Azwar

Contact Us!

Recommended Posts
Comments
  • Vitria
    Reply

    bagus tulisannya

Leave a Comment