Terhindar dari malapraktik #4

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Para pembaca yang terhomat, hari ini kami akan melanjutkan tulisan dari buku karya Dokter Bahar Azwar yang berjudul “menjadi pasien cerdas – terhindar dari malapraktik”. Tulisan sebelumnya kita sudah membahas 1 kasus dari 25 kasus yang dipaparkan pada bab ke dua. Bagi yang belum membaca silahkan dilihat pada link : Terhindar dari malapraktik #3 

Tetap akan kami informasikan jika ada yang berminat ingin membaca buku karya dokter Bahar Azwar secara keseluruhan dapat menghubungi hotline kami pada bagian bawah dari tulisan ini.

Kasus 2 : Olahraga Kuitansi

Seorang ibu umur 60 tahun diantar anaknya Yati (Y) datang ke poliklinik mata RS Sumber Waras. Pasien mendaftar pada loket pendaftaran di lantai satu. Setelah selesai pemeriksaan mata, pasien diminta membayar pada kasir di lantai satu. Sebelumnya, beliau telah meminta pembuatan kuitansi di bagian administrasi poli mata. Setelah membayar di kasir, beliau minta naik ke lantai dua untuk memberikan bukti pembayaran. Bagian administrasi lantai dua mengatakan bahwa permintaan kuitansi pada kasir lantai satu. Si ibu turun lagi. Di tempat kasir ia di suruh kel lantai dua untuk mengambil karcis pendaftaran yang telah di bayar senilai Rp. 75.000. (kompas, 12 November 2001)

Apakah ada malapraktik?

Ya, tetapi bukan malapraktik kedokteran karena masalahnya adalah administrasi dan bukan pengobatan.

Bukankah naik turun enam kali itu berbahaya bagi orang tua?

Betul dan olahraga itu akibat malapraktik rumah sakit.

Dapatkah dituntut?

Tentu dapat, tetapi tidak layak karena bukan penipuan dan musibahnya sangat ringan. Sebaiknya ditanyakan dulu ke oknum keuangan rumah sakit.

Jika jawabannya sesuai dengan prosedur, dimanakah letak salahnya?

Bahwa terjadi musibah, padahal sesuai dengan prosedur, berarti ada kesalahan pada prosedur.

Mungkinkah itu terjadi?

Bisa saja bila ada pengembangan rumah sakit yang tidak diikuti dengan perubahan prosedur. Mungkin dulunya administrasi dengan keuangan terletak satu lantai. Yang patut disalahkan adalah petinggi rumah sakit yang membuat prosedur dan oknumnya.

Bagaimana mencegahnya?

Seperti Ibu Arlina, pilihlah rumah sakit yang sesuai.

Kasus 3 :

Pindah dari Rumah Sakit canggih ke sederhana lalu meninggal

Anak Pak Yudi masuk ke Unit Gawat darurat (UGD) RS Hasan Sadikin (RSHS). Kondisinya kritis, sehingga banyak peralatan terpasang di tubuhnya. Keesokan harinya ia didatangi oleh dua petugas RS Mitra Kasih yang menwarkan pindah rumah sakit mereka. Bersama itu di janjikan tim dokter yang lebih berpengalaman dan perawatan yang lebih komplit. Esok lusanya, Pak Yudi di rayu lagi hingga luluh dan setuju untuk memindahkan anaknya kerumah sakit itu. Ternyata, rumah sakit itu tidak memiliki fasilitas yang dibutuhkan dan dokternya menyatakan tidak sanggup menolong tanpa alat tersebut. Dan anak Pak Yudi di bawa kembali ke RSHS, tetapi meninggal dalam perjalanan (Pikiran Rakyat, 8 Mei 2003)

Bagaimanakah pembahasan pada kasus ini? bagaimanakah kasus – kasus berikutnya? nantikan tulisan kami berikutnya.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Buku Karya Dokter Bahar Azwar

Contact us!

Recommended Posts

Leave a Comment