Terhindar dari malapraktek #5

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Para pembaca yang terhormat, pada kesempatan kali ini kami akan kembali mengupas buku hasil karya dari Dokter Bahar Azwar yang berjudul “menjadi pasien cerdas, terhindar dari malapraktik.”Pada tulisan terdahulu kita telah membahas kasus kedua dari 25 kasus yang pernah terjadi Terhindar dari Malapraktik #4 Sekarang, sesuai dengan yang telah dijabarkan, kami akan kembali melanjutkan ke kasus 3, yaitu :

Pindah dari Rumah Sakit canggih ke sederhana lalu meninggal

Anak Pak Yudi masuk ke Unit Gawat darurat (UGD) RS Hasan Sadikin (RSHS). Kondisinya kritis, sehingga banyak peralatan terpasang di tubuhnya. Keesokan harinya ia didatangi oleh dua petugas RS Mitra Kasih yang menwarkan pindah rumah sakit mereka. Bersama itu di janjikan tim dokter yang lebih berpengalaman dan perawatan yang lebih komplit. Esok lusanya, Pak Yudi di rayu lagi hingga luluh dan setuju untuk memindahkan anaknya kerumah sakit itu. Ternyata, rumah sakit itu tidak memiliki fasilitas yang dibutuhkan dan dokternya menyatakan tidak sanggup menolong tanpa alat tersebut. Dan anak Pak Yudi di bawa kembali ke RSHS, tetapi meninggal dalam perjalanan (Pikiran Rakyat, 8 Mei 2003).

Apakah ada malapraktik?

Jelas malapraktik, tetapi bukan oleh dokter.

Apakah alasannya mengatakan malapraktik oleh dokter tidak ada?

Saat korban keluar dari UGD RSHS, tanggung jawab beralih pada pembawanya. Malapraktik tidak ada karena sejak itu sampai meninggal tidak dilakukan tindakan medik atau kedokteran

Bagaimana mungkin RSHS lepas tangan?

Karena pasien pindah atas permintaan sendiri. RSHS hanya bertanggung jawab sebatas tindakan yang telah dilakukannya.

Jadi siapakah yang bertanggung jawab dalam kasus ini?

Karena rumah sakit tujuan bersifat bisnis untuk mencari keuntungan, tanggung jawab berada di pundak rumah sakit yang mempekerjakan oknum tersebut.

Bagaimana menuntut keadilan dalam kasus ini?

Ini adalah penipuan dan sebaiknya diadukan ke polisi.

Bagaimana pencegahannya?

Ada tiga hal yang dapat mencegahnya :

  1. Mintalah pendapat UGD RSHS, mengenai apakah korban layak pindah atau sudah tidak membutuhkan lagi penggunaan alat canggih.
  2. Mintalah bantuan dokter UGD RSHS untuk menilai kelengkapan fasilitas dan tim ambulan sebelum berangkat.
  3. Yang terpenting adalah yakinilah terlebih dahulu kesiapanrumah sakit yang akan dituju dengan mendatanginya, sembari membawa surat rujukan dan menanyakan langsung pada dokter di rumah sakit tersebut.

Perlukah membawa surat rujukan itu?

Tentu karena di surat itu tertulis diagnosis dan pengobatan yang dilakukan. Dengan itu dokter di rumah sakit tujuan dapat memutuskan apakah mereka sanggup meneruskannya atau tidak.

Demikianlah kasus ketiga ini, semoga bermanfaat. Pada kasus selanjutnya secara langsung kami akan membahas kasus ke 4 dan kasus ke 5 dari 25 kasuis yang ada pada buku ini. Buku ini merupakan buku saku untuk bagi para pasien agar melek rumah sakit. Adanya BPJS bukan berarti menjamin penyimpangan seperti ini tidak akan terjadi.

Best Regard

Sehat – Islami

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Buku Karya Dokter Bahar Azwar

Contact us!

Recommended Posts

Leave a Comment