Terhindar dari malapraktik #6

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Para pembaca yang terhormat, setelah melalui berbagai aktifitas sehari-hari , akhirnya pada kesempatan ini kembali dapat kami lanjutkan tulisan Terhindar dari Malapraktik Kedokteran yang telah ada di bedah kasus ke 3. http://sehat-islami.com/2017/11/19/terhindar-dari-malapraktek-5/ Langsung saja kita mulai dengan kasus ke 4 yang berjudul : ‘

Dua orang Meninggal Akibat Gas Racun di Kamar Bedah

Berturut-turut dua orang meninggal akibat gas racun waktu operasi. Tanggal 22 Maret 2001 di RSUD Bengkulu seorang pasien menjalani operasi penggantian pen. Sebelum operasi berlangsung, tekanan darah pasien turun. Resusitasi atau usaha untuk mengatasi kegagalan fungsi jantung dan paru gagal dilakukan. PAsien meninggal akibat kekurangan oksigen (hipoksia) karena aliran oksigen tidak cukup dan mesin anestesi tidak bekerja dengan baik. Keeseokan harinya tanggal 23 Maret 2001 di tempat yang sama dilakukan operasi THT. Mesin anestesi diganti. Waktu anestesi, pasien pucat, sesak nafas, kulit pucat kebiruan, dan denyut nadi kecil tak teraba. OPerasi dibatalkan. Pasien dirujuk ke RSCM dan meninggal beberapa hari kemudian. (Kompas, 7 Maret 2002, Pikiran Rakyat, 19 Maret 2002).

 

Apakah terjadi malapraktik?

Akal sehat akan mengatakan itu sebagai malapraktik karena dua orang pasien dibawa ke dalam kamar berdah dan sebelum operasi meninggal.

Apakah resiko kematian diberitahukan sebelum operasi?

Tidak terberita, tetapi resiko itu tidak lazim diperjanjikan.

Mengapa?

Resiko yang jarang terjadi tidak perlu diperjanjikan karena dokter tidak boleh menakut-nakuti.

Dimanakah letak kesalahan dokter itu?

Sebelum berlanjut, perlu kita luruskan dulu persoalan musibah ini. Dari sudut dokter, ia dapat dibagi atas yang tidak dapat dan yang dapat dicegah.

Apakah musibah yang tidak dapat dicegah itu merupakan takdir?

Tentu, tetapi dapat diterangkan. Sains kedokteran berkembang melalui statistik. Berbagai cara pengobatan dan obat dikembangkan terlebih dahulu di laboratorium yang disusul dengan percobaan pada berbagai binatang. Jika berkhasiat dan aman barulah digunakan pada manusia.

Apa hubungannya dengan medical error?

Nah, statistik adalah teori kemungkinan, yang tidak pernah mutlak. Mereka dinyatakan dengan kemaknaan. Misalnya derajat kemaknaan (level of significance) obat anu adalah 5% berarti ia akan menyembuhkan 95 dan 100 orang berpenyakit anu. Atau, seaman-amannya vaksinasi cacar, walalupun sangat jarang, masih mungkin menyebabkan radang otak. Tiada yang bisa menentukan siapa yang tidak sembuh atau mendapat penyulit itu kecuali takdir. Musibah karena ketidakpastian ini disebut kesalahan medik atau medical error dan tidak dapat dicegah.

Okelah, jadi kalau bukan kesalahan medik atau takdir, apakah musibah lainnya dapat dicegah oleh dokter?

Tunggu dulu. Sebelum itu, kita lihat dulu gambar berikut :

Bayangkan Anda berada di ruang bedah suatu rumah sakit. Di situ sudah siap dokter dan timnya, seperti dokter asisten, perawat batau bidan. Lihatlah sekeliling Anda. Siapakah yang mengurus listrik? Siapakah yang membeli obat untuk operasi? Siapakah yang merawat mesin anestesi? Siapakah yang membeli dan menyiapkan gasw, baik oksigen maupun untuk membius?

Maksudnya?

Memang dokter ahli bedah dan anestesi merupakan penanggung jawab operasi. Namun, dapatkah mereka dipersalahkan atas kelalaian pihak lain dalam merawat mesin anesresi, pasokan gas oksigen, ataupun salah urus rumah sakit? Musibah ini tentunya tidak dapat dicegah oleh dokter.

Bagaimanakah hubungannya?

Dokter anestesi memulai pembiusan dengan memasang pipa trakea yang akan mem-by-pass hidung dan mulut, untuk melewatkan udara langsung ke paru-paru. Pasien mendapatkan oksigen untuk pernafasan dari tabung oksigen yang disambungkan ke pipa trakea. Kemudian gas pembius dalam tabung khusus yang berwarna biru disambungkan melalui mesin ke pipa trakea. Pasien tidur dan siap untuk dioperasi. Bila ternyata mesin anestesi tidak dikalibrasi hingga gas yang keluar berlebihan, ataupun tabung gas pembius ternyata berisi gas beracun (CO2), musibah akan terjadi.

Mengapa dokter tidak mengetahuinya terlebih dahulu?

Asas kamar bedah yang terpenting adalah saling mempercayai. Perawat percaya bahwa dokter bedah mampu melakukan operasi, ia tidak mungkin meminta ijazahnya. Dokter bedah percaya bahwa alat bedah steril, ia tidak mungkin membukanya. Dokter anestesi percaya bahwa tabung NO2 berisi gas sesuai dengan yang tertulis. Ia tidak mungkin menanyakan kebenaran isinya satu per satu setiap operasi kepada logistik.

Jadi, kepada siapakah korban menuntut keadilan?

Sebagai suatu lembaga, tanggung jawab hukum rumah sakit terletak di tangan hukum penyelenggara rumah sakit. Karena RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) adalah Instansi pemerintah, tanggung jawabnya terletak ditangan pemerintah sebagai badan hukum publik.

Bagaimanakah mencegahnya?

Sekali lagi musibah ini dapat dicegah, tetapi bukan oleh dokter.

Demikian lah kasus ke 4 dari 25 kasus malapraktik yang kami sajikan dari buku karya dokter Bahar Azwar. Bagi para pembaca yang ingin memiliki soft copy atau hard copy buku ini ataupun karya lainnya dari dokter Bahar Azwar dapat menghubungi hotline kami pada bagian bawah.

Kasus berikutnya atau kasus ke 5 adalah :

Terjun dari Lantai 5 dan Meninggal Dunia

Mamay Ruskamar (54) pasien di kamar 501, lantai 5 Instalasi Rawap Inap (IRNA) RS. Fatmawati, tewas sesudah melompat dari jendela kamarnya. Pasien melompat dari lantai 5 RS Fatmawati selasa, 9 Desember, jam 07.00. Masuk kamar sejak minggu, 7 Desember, dengan diabetes dan TBC kronik. Kondisi sangat akut dan harus dirawat sebab setiap batuk dia mengeluarkan darah. (Suara Pembaruan, 9 Desember 2003).

Bagaimana analisa dari kasus ini? Apakah ada malapraktik kedokteran? bukankah ada kemungkinan bunuh diri? nantikan lanjutan dari buku ini. Semoga dapat bermanfaat buat semua dan penulis, Almarhum Dr. Bahar Azwar khususnya. Aamiin yaa Rabb.

Buku Karya Dokter Bahar Azwar

Contact Us!

Recommended Posts

Leave a Comment