Terhindar dari malapraktik #7

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Para pembaca yang budiman, pada kesempatan kali ini mari kita lanjutkan kembali bedah kasus dari buku “menjadi pasien cerdas terhindar dari malapraktik” karya dr. Bahar Azwar, Sp B Onk. Pada tulisan sebelumnya  Terhindar dari malapraktik #6 telah kami hadirkan contoh kasusnya, sekarang mari kita analisa kasus ini.

Apakah ada malapraktik?

Malapraktik ada, tetapi bukan oleh dokter. Masalahnya adalah pengawasan di kamar rawat.

Bukankah ada kemungkinan bunuh diri?

Mungkin saja. Namun, jika tidak, perlu dicari kelalaian rumah sakit yang memungkinkan peristiwa itu.

Jika tidak bunuh diri, berapakah derajat musibah ini?

Dari meninggalnya, tentu derajat 9 pada skala 1-9. Perlu pula diketahui bahwa jatuh di rumah sakit berada pada peringkat ketiga musibah menurut National Association of Insurance Commissioners (NAIC).

Dapatkah rumah sakit dituntut bila tidak terbukti melakukan bunuh diri?

Tentu dapat, tetapi sulit dimenangkan. Rumah sakit dapat dituntut karena setiap pasien masuk rawat diharuskan menandatangani surat rawat.

Apa hubungannya dengan surat rawat?

Disitu disebutkan bahwa pasien setuju akan setiap pengobatan yang dianggap perlu dan setiap saat dapat dihubungi. Cara pengobatan itu termasuk mengikat pasien ditempat tidur jika dianggap perlu.

Apa hubungannya dengan surat rawat?

Disitu disebutkan bahwa pasien setuju akan setiap pengobatan yang dianggap perlu dan setiap saat dapat dihubungi. Cara pengobatan itu termasuk mengikat pasien ditempat tidur jika dianggap perlu.

Mengapa sulit dimenangkan?

Sulit, karena pasien harus mematuhi peraturan rumah sakit. Ingkar janji yang menjadi budaya kita adalah soal jam besuk. Rumah sakit tidak bertanggung jawab jika keluarga yang menunggui menganggu perawatan atau pekerjaan rumah sakit.

Bagaimana bila tidak ada gangguan dari keluarga?

Bila tidak, harus dibuktikan adanya kelalaian oknum rumah sakit mengikuti instruksi dokter dan prosedur rumah sakit, misalnya jadwal pengawasan pasien. Bagi rumah sakit pemerintah yang tidak mengambil keuntungan harus dibuktikan pula bahwa mereka melakukan kesalahan dalam penerimaan dan pendidikan oknum tersebut.

Jadi bagaimana sebaiknya?

Usahakan jalan damai tanpa memojokan rumah sakit.

Bagaimana pencegahannya?

Berikut “screen shoot” dari buku aslinya agar pembaca lebih jelas. Jika pembaca ingin meminta soft copy nya, segera hubungi hotline kami.

Demikianlah kasus ke 5 ini kami jabarkan semoga bermanfaat. Kasus berikutnya adalah :  Mahal di Rumah Sakit Swasta yang Canggih. Berikut ringkasannya :

Seorang pasien yang jarinya terjepit di pagar dibawa oleh kakaknya, Moli, ke RS Graha Medika Jakarta. Menurut dokter, tulang pangkal jari manis kananya remuk. Pasien masuk jam 19:00, operasi 21:00, masuk ruang VIP 22:25. Besoknya jam 10:30 sudah boleh pulang. Untuk pengobatan adiknya, Moli ditagih Rp. 14,4 Juta, termasuk Rp.7,8 juta untuk dokternya. (Kompas, 8 April 2011).

Adakah malapraktik pada kasus ini? nantikan tulisan berikutnya.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Contact us!